Dahulu kala di era Agraris atau era tuan tanah, akses sumberdaya (modal) hanya milik sekelompok orang. Luas tanah/ladang, jumlah hewan ternak dan perkebunan menentukan status sosial masyarakat di era ini. Mereka yang berasal kaum kasta bawah relatif lebih sulit untuk punya “modal” yang sama dengan para kaum kasta atas kecuali menjadi menantu kaum kasta atas.

Saat Inggris menemukan mesin uap pertama kali, dunia memasuki sebuah era baru yang disebut era industri. Kesempatan bukan lagi menjadi milik para tuan tanah, melainkan mereka yang berpendidikan tinggi yang akan lebih unggul di era industri ini.

Tentu saja ini menjadi kabar baik untuk kaum kasta bawah karena mereka bisa merangkak naik ke kaum kasta atas meski waktunya lama. Tak heran, mereka yang berubah status sosialnya di era industri ini, biasanya mencapai kesuksesan di atas usia 50 tahun.

Tapi di era informasi digital seperti saat ini ceritanya sudah lain, kini setiap orang punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, untuk dikenal, untuk berpendapat termasuk menghasilkan keuntungan.

Kabar baiknya, bukan cuma Atta Halilintar & Ria Ricis yang bisa jadi Youtuber, Anda pun bisa mulai buat Youtube Channel Anda sendiri. Bukan cuma Tasya Farasya yang bisa jadi selebgram, Anda pun bisa memulai konten Anda sendiri di Instagram. Selama Anda bernafas, Anda juga punya kesempatan yang sama dengan bos – bos startup seperti Gojek, Traveloka, Grab dll.

Berbisnis tidak lagi harus dengan cara – cara lama, gak harus punya toko fisik, sebar brosur fisik, buka stand misalnya, cukup Anda buka akun di marketplace maka bisnis Anda pun punya kesempatan yang sama untuk ramai pengunjung.

Saya punya seorang partner kerja di bisnis affiliasi digital, ia seorang “juragan” yang menghasilkan keutungan rata – rata Rp. 1.000.000 per hari dari marketplace, tanpa stok barang dan tidak pernah direpotkan dengan urusan teknis seperti packing dan pengiriman barang.

Tapi jangan lupa, karena kesempatan terbuka untuk semua orang, informasi menjadi lebih liquid, akhirnya persaingan pun menjadi lebih menarik.

Di tulisan kami sebelumnya tentang Era Distrupsi, perusahaan – perusahaan berbasis teknologi meyakini sebuah ungkapan “distruption is one click away” yang artinya apapun yang bisa mereka buat juga bisa dibuat & dikembangkan oleh orang lain.

Marketplace misalnya, jelas mendistrupsi peran toko offline. Yang dahulunya milik kita, hari ini tidak ada istilah “kesetiaan” yang abadi. Customer Anda bisa “berselancar” bebas ke toko milik orang lain untuk mencari barang yang sama atau hanya sekedar untuk membandingkan saja, seperti yang terjadi di Amerika, orang – orang datang ke departement store SEARS untuk melihat – lihat barangnya, coba – coba, icip – icip tapi mereka beli barangnya di Amazon.com. 

Atau bagi Anda yang ingin atau sudah memulai bisnis online, cara – cara lama bisnis online yang harus fast response menjawab keinginan calon konsumen mulai terdistrupsi oleh platform digital terautomasi seperti DOA yang sangat cocok untuk pemula yang mau bisnis tapi terkendala modal, produk, konten, pengetahuan dan urusan teknis bisnis online.

Kedepan, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan era setelah era digital. “Always learn and open mind” adalah pesan yang disampaikan oleh motivator Tung Desem Waringin dalam menghadapi perubahan era. Bukan lagi generalisasi atau spesialisasi yang menjadi poin penting untuk sukses di era ini, melainkan kolaborasi dengan para “pemilik” masa depan.

 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *