Akhir tahun 2019 lalu saya menangani sesi konseling sebuah keluarga yang anaknya sedang mengalami kegalauan masa depan.

Keluarga ini keluarga kecil dengan dua orang anak laki – laki yang sudah dewasa. Sang kaka saat ini menempuh pendidikan di Akpol atau Akademi Kepolisian.

Sedangkan sang adik masih berusia remaja yang sudah jelas impiannya untuk menjadi anggota TNI AU.

Ada sebuah pengalaman yang menarik dari keluarga ini yang ingin saya bagikan kepada Anda semua.

Persisnya ketika sang kaka mendaftar ke Akademi Kepolisian, selain memberikan detail info apa yang perlu sang kaka persiapkan untuk menempuh jalur pendidikan di Akpol, saat itu ada sebuah “permintaan khusus” dari tim Mabes Polri kepada pihak keluarga.

Bukan, permintaanya bukan seperti yang barangkali Anda pikirkan saat ini melainkan “hanya” informasi mengenai akun Media Sosial masing – masing anggota keluarga.

Saya tidak faham persisnya untuk tujuan apa, tapi saya memilih untuk berpositif thinking. Mungkin tim Mabes ingin mengenal siapa dan bagaimana profil keluarga yang melahirkan calon anggota yang akan melanjutkan estafet perjuangan kepolisian republik Indonesia melalui rekam jejak digital.

Di zaman now, bukan hanya di Mabes Polri, banyak perusahaan yang juga mulai mempertimbangkan portofolio digital seorang calon pelamar kerja.

Tentu saja ini bukan hal baru, Anda juga barangkali sudah pernah mendengar berita ini.

Tapi jujur saja, saya agak kaget, kok sampai harus stalking ke akun medsos kedua orang tuanya juga ya?

Sekali lagi saya memilih untuk berprasangka baik, mungkin mereka ingin merekrut “bibit – bibit” terbaik yang lahir dari keluarga yang juga “baik” untuk bergabung ke instansi mereka.

Semakin memperjelas bahwa generasi yang baik hanya akan lahir dari kedua orang tua yang juga baik.

Sains membuktikan ada warisan gen yang herediter (diturunkan) dari orang tua kepada anaknya.

Kisah ini mengingatkan saya pada pesan seorang mentor saya yang pernah menyampaikan, “orang tua yang sukses berpeluang besar melahirkan anak yang juga sukses”.

Mentor saya pernah melakukan sebuah pengamatan sederhana kepada kawan – kawan zaman kuliahnya dulu, orang tua yang kaya cenderung “melahirkan” anak yang juga kaya.

Bukan karena warisan harta, melainkan warisan pola pikir, standar hidup tertentu dan level toleransi sukses yang bisa mereka terima.

Sebaliknya, orang tua yang tidak berhasil sukses, mereka cenderung “memaklumi” anaknya kalau tidak sukses. Karena mereka “nyadar” diri kalau mereka juga tidak sukses, see?

Kembali kepada kisah tadi, Aa Gym pernah menasehati, “teko hanya akan mengeluarkan isi teko” Statusmu, postinganmu, share-mu adalah “harimau-mu”.

Mulai sekarang, setiap kali akan posting sesuatu, share sesuatu khususnya di media sosial, pikir – pikir dulu, sumbernya valid gak? Kalau pun valid, ada gunanya gak dishare?

Dampaknya bukan cuma ke “personal brand” Anda tapi juga bisa mempengaruhi “masa depan” anak keturunan Anda. Waspadalah.. Waspadalah..

“Watch out your words, because your words will become your destiny”

Mari bijak berteknologi ^^

Rizal Muharam
Screen Free Parenting Coach

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *