Riefian Fajarsyah alias Ifan Seventeen seorang korban yang selamat dari tragedi tsunami di Selat Sunda akhir tahun 2018 ketika di tanya bagaimana rasanya ketika itu? Mas Ifan menjawab “karena kita belum pernah punya memori tentang tsunami maka otak kita akan berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi”.

Begitu juga dengan yang namanya perubahan, perubahan adalah sesuatu yang baru yang belum ada bentuknya dikepala kita sering dianggap asing, aneh, gak masuk akal, gak normal.

Seperti istilah UFO alias An Unidentified Flying Objects yang sebenarnya hanyalah label untuk menjelaskan sesuatu yang belum bisa dijelaskan.

Nah, bicara soal perubahan, saat ini kita sedang berhadapan dengan “tsunami perubahan” yang gelombangnya memaksa kita untuk ikut berubah atau malah punah. Dan yang namanya perubahan, biasanya tidak serta merta disambut positif. Menurut seorang filsuf Yunani setidaknya ada tiga fase yang akan dilalui oleh sebuah perubahan.

FASE 1 – DITERTAWAKAN

Tahun 1994 saat internet belum “berbentuk” di kepala sebagian besar orang, Jack Ma membicarakan idenya tentang internet kepada 23 orang rekannya, dan mereka menertawakan idenya yang dianggap gila, apalagi Jack Ma tidak tahu apa pun soal komputer.

Selain itu 40 bank menolak mendanai Jack Ma dengan ide Alibabanya yang dianggap masyarakat sebagai contoh yang buruk.

Tertawa mereka lebih keras lagi saat tahu dalam 3 tahun pertama, Jack Ma tidak memperoleh untung 1 dollar pun dari ide gilanya, tapi Jack Ma percaya Alibaba akan menjadi besar.

16 tahun kemudian, Alibaba menjelma menjadi raksasa bisnis ecommerce yang memiliki Alibaba group, TMall group, Taobao group, Ali Pay dan sukses mengantarkan Jack Ma menjadi salah satu orang terkaya di negri Tirai Bambu.

Orang – orang yang dulu menertawakan Jack Ma, balik bertanya, “kamu sangat pintar, bagaimana caranya membangun perusahaanmu?”

FASE 2 – DITENTANG DENGAN KERAS

Sebagian dari Anda tentu sudah akrab bahkan mungkin sudah “ketergantungan” dengan moda transportasi berbasis aplikasi sebut saja misalnya Gojek atau Grab.

Beberapa tahun lalu, bisnis model tersebut menuai kecaman yang cukup keras terutama dari armada transportasi konvensional yang lapaknya terganggu.

Moda transportasi online dianggap aneh, ilegal, siluman karena “kantor” nya ada di smartphone.

Saya masih ingat sekali, bahkan sampai hari ini masih ada kawasan – kawasan tertentu yang “haram” dilewati oleh driver transportasi online tersebut.

Tapi hari ini, bisnis model transportasi berbasis aplikasi nampaknya sudah melewati fase ke 2 dan sudah beralih ke fase ke 3.

FASE 3 – DITERIMA

Sistem delivery order awalnya hanya milik segelintir raksasa bisnis kuliner saja, tapi hari ini bisa dikatakan semua bisnis kuliner “punya” layanan delivery order, dan menariknya, gak perlu bayar dengan uang tunai.

Kirim barang tidak perlu tergantung dengan jasa ekspedisi. Tinggal klik aja, maka kurir akan datang ke tempat Anda.

Pesan taksi tidak perlu datang ke pangkalan, cukup panggil lewat aplikasi. Tinggal klik aja, Anda bisa dijemput dengan taksi “burung biru” atau “mobil pribadi”.

Bahkan pernah di sebuah portal berita online dikatakan, minat masyarakat milenial untuk bisa punya mobil menjadi tidak terlalu mendesak karena kapan pun mereka butuh mobil, mereka tinggal klik aja aplikasi smartphone mereka tanpa harus menabung, mencicil, atau merawatnya.

Sehingga hari ini kita perhatikan, mulai bermunculan orang – orang “kaya” baru yang setiap hari mobil dan supir “pribadi” nya selalu gonta – ganti. Horang kaayaaa. 😂😂😂

Sadarkah Anda, mereka yang awalnya menertawakan atau menentang bisnis model ini akhirnya lambat laun harus menjadi “korban” dari perubahan gaya hidup masyarakat yang serba beralih ke aplikasi digital.

Bukan hanya diterima, bisnis model transportasi online pun akhirnya berhasil “memaksa” moda transportasi konvensional untuk shifting bisnis model.

Terakhir, kita tidak pernah tahu, apakah bisnis digital terautomasi seperti klik aja juga akan melalui ketiga fase tersebut.

Tapi seandainya akan bernasib sama, ketika fase ke 3 itu tiba, kita ada di posisi pemain yang tinggal menikmati atau jadi penonton yang baru akan memulai? Wallahu’alam..

See the unseen, jangan dulu putuskan sebelum Anda cari tahu jawabannya DISINI.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *