Pendidikan Terbaik Untuk Anak Usia Dini

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahun 2018 lalu, saya pernah mendapatkan amanah dari sebuah komunitas bisnis untuk memberikan motivational speech di hadapan 3000 – an peserta dari berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara Asia.

Meskipun cukup sering tampil berbicara dihadapan publik, gak otomatis membuat saya optimis tampil sama baiknya atau bahkan lebih baik di hadapan ribuan peserta, apalagi durasinya cukup padat, hanya 30 menit. Huaaaaa… auto nervous dong

Hampir saja kesempatan itu saya tolak karena saya merasa belum cukup layak mendapat amanah itu, tapi saya berpikir kalau ini di tolak, kapan lagi saya bisa dapat kesempatan berharga ini?

Toh gak mungkin presiden komunitas tersebut juga asal – asalan milih narasumber, apalagi ini event nasional. *ciee uhuk hehe..

Akhirnya bismillah.. saya beranikan diri untuk mengambil tantangan tersebut, toh saya bisa persiapan dulu.

Qodarullah.. bukan saya yang hebat, melainkan Allah yang memudahkan semuanya. Alhamdulillah testimoni sebagian besar peserta khususnya di sesi saya, sangat positif dan berkesan.

Selesai acara, masya Allah nama saya mendadak jadi trending topic, permintaan pertemanan di facebook mendadak full, kesan dan pesan para peserta yang hadir membanjiri laman group whatsapp dan facebook group komunitas.

Sampai saat tulisan ini terbit, saya menyadari bahwa saya “dibayar” dengan sangat mahal sebagai guest speaker di event tersebut.

Kalau ukurannya hanya uang, sebesar apa pun nominal yang kita terima mungkin gak akan pernah ada kata cukup, dan akan habis juga pada akhirnya.

Tapi menariknya saat kita perluas fokus kita kepada konteks rezeki, maka kita akan temukan value lain daripada sekedar uang.

Satu tahun berlalu sejak event tersebut, saya mendapati putri saya Khansa yang usianya menjelang 4 tahun beberapa kali mengikuti perlombaan yang membutuhkan kemampuan berbicara di muka umum dan alhamdulillah selalu jadi runner up.

Awalnya saya tidak menyadari nikmat Allah yang satu ini, saya pikir biasa saja, gak ada yang spesial.

Mungkin turunan tukang ngomong, secara bundanya juga seorang guru, jadi saya anggap sebuah “kewajaran”.

Sampai pada suatu pagi ketika saya sedang bermain dirumah dengan Khansa, saya iseng nanya, “Ka, kaka ko berani sih maju ke panggung, ngomong depan orang – orang, emang gak takut gitu?”

Saya merasa tema public speaking sampai hari ini masih jadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar orang.

Cukup sering saya menemukan anak – anak yang mengalami nervous saat tampil di panggung, lha kok ini anak gue malah pengen tampil mulu ya..

Betapa kagetnya saya saat mendengar jawaban Khansa. Ia menjawab dengan logat bicara anak usia 3 tahun dengan berkata, “Kan Khansa liat papah di LCD!”

Allahu akbar!! Gak pernah saya ngajarin apalagi sengaja ngelatih, lha masih anak umur 3 tahun ngapain juga diajarin jadi motivator.

Tapi rupanya, momen saat saya tampil di acara LCD (Life Celebration Day) tahun 2018 di ICE BSD Tangerang cukup membekas di memori anak saya yang ketika saya tampil ia berada di kursi VIP bersama bundanya. Masya Allah..

Sebagai seorang yang punya kawan – kawan di kalangan para trainer dan public speaker, saya tahu betul harga pelatihan yang harus dibayar jika seorang ingin menjadi seorang trainer.

Untuk salah satu kelas pelatihan public speaking yang sangat favorit yang di gawangi oleh salah satu motivator dan inspirator kondang nasional saja, peserta perlu menyiapkan sekitar 7 – 8 juta rupiah.

Selama 3 hari pelatihan itu, peserta akan dilatih oleh para trainer profesional agar berani tampil, bicara sistematis dan berpengaruh.

Masya Allah betapa harunya saya saat mendengar jawaban Khansa, karena ini sama artinya dengan semisalnya saya menyiapkan biaya senilai itu agar anak saya berani tampil, bicara sistematis dan berpengaruh.

Pernah terlintas dalam batin, di hari ultah Khansa yang ke 3 tahun waktu itu, saya ingin suatu hari nanti bisa mengantarkan Khansa untuk jadi seorang inspirator muslimah kelas dunia. Aamiin..

Jelas kemampuan public speaking mutlak diperlukan, alhamdulillah.. Allah sudah siapkan “pondasi” nya tinggal bagaimana kami orang tuanya menindak lanjuti.

Jadi teringat “Ing Ngarso Sung Tulodho” petuah fenomenal seorang tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara yang masih relevan sampai detik ini, yang artinya “di depan memberikan teladan”.

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam sebuah sesi kajiannya tentang mendidik anak dalam Islam mengatakan, pendidikan terbaik khususnya untuk anak di usia 7 tahun pertama adalah KETELADANAN (you do it first).

Semoga kisah ini bisa menginspirasi para orang tua untuk menjadi idola pertama bagi anak-anaknya. Aamiin 🤲

Senin, 30 September 2019

Rizal Muharam
Screen-free Parenting Coach


Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment