Zona Nyaman Atau Mati Rasa?

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda masih ingat saat pertama kali gigi graham bungsu Anda tumbuh, bagaimana rasanya? Pusing, demam, nyeri, gak enak.

Ohya, sebelumnya kami ingin menyampaikan terima kasih pada mas Tirto Aris buat status facebooknya yang berjudul, “zona nyaman itu sebaiknya di hindari atau di syukuri?”.

Pertanyaan yang menggugah kami untuk menjawabnya dalam bentuk tulisan yang saat ini Anda baca.

Pertama – tama, sebelum kita putuskan hindari atau syukuri, kita pastikan dulu benarkah itu zona nyaman atau jangan – jangan sebuah kondisi “mati rasa” yang kita maklumi dengan dalih zona nyaman?

Ya, “mati rasa” agak mirip dengan zona nyaman, sebagai contoh, yang awalnya seorang itu berambisi untuk menapaki setiap jenjang karir yang ada di perusahannya namun “dewi fortuna” belum juga berpihak kepadanya.

Akhirnya ia kehilangan motivasi dan berusaha untuk “menerima” kondisi tersebut disertai dengan keluhan – keluhan hidupnya yang hanya jalan di tempat sambil menunggu tanggal kematian. Itu bukan kamu dong pastinya ^,^

Padahal masalah sebenarnya mungkin ada di ikhtiar yang belum maksimal, atau memutuskan untuk “rehat” sejenak yang membuatnya kehilangan momentum dan akhirnya ia merasa berat untuk memulai lagi.

Dan untuk menutupi rasa malasnya ia “memaklumi” ketidak mampuan dirinya dan beralasan yang kadang agak bernuansa “agamis” misalnya dengan dalih zuhud.

Tapi seandainya itu betul zona nyaman, maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah ‘BERSYUKUR’ karena ada jutaan orang di dunia ini yang rela bertukar posisi dengan kita.

Namun jangan sampai kenyamanan itu malah melenakan, karena banyak orang yang justru terjebak dengan kenyamanan sehingga hidupnya hanya “numpang lewat”, minim aksi, dan tanpa kontribusi.

Banyak orang yang meyakini kesempitan hidup adalah ujian, namun banyak yang tidak sadar bahwa sebenarnya kenyamanan hidup pun adalah juga ujian.

Berapa banyak cerita orang yang akhirnya sukses karena terlampau “kenyang” dengan pahitnya kehidupan ketimbang orang yang akhirnya sukses dengan kondisi kehidupan yang sudah nyaman?

Rasa sakit seringkali menjadi motivator kesuksesan yang sangat menggerakan. Dengan kata lain rasa sakit sebenarnya adalah bentuk ‘buruk rupa’ dari karunia (rezeki) Allah.

Mungkin ada yang berkomentar, kalau memang rasa sakit itu memotivasi, kenapa si fulan yang hidupnya jelas – jelas susah tapi seolah tidak pernah ada upaya maksimal untuk ia mengubah kehidupannya?

Pertama, itu deritanya si Fulan, ngapain juga kita mikirin doi hehe.. Kedua, rasa sakit yang menggerakan haruslah sampai pada taraf yang sangat menyakitkan sampai – sampai dirinya sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit itu, sehingga pilihan yang tersedia hanya BERUBAH.

Kalau masih belum tergerak juga, inilah yang disebut sebagai keadaan “mati rasa”, sakit sih tapi masih bisa di tahan, terlalu lama menahan akhirnya kebal (mati rasa).

Negara Jepang bisa begitu maju, kreatif dan inovatif adalah karena kondisi alamnya yang sering terjadi gempa dan tsunami, sehingga masyarakat Jepang terus dan terus berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa selamat di rumah sendiri.

Sangat kontras dengan negara kita yang kaya akan sumber daya alam yang seringkali melenakan. See?

Mulai hari ini, siapa pun diri Anda yang sedang merasa di kasih ujian oleh Allah.

Ujian bukanlah cobaan yang biasa Anda fahami sebelumnya tetapi ujian adalah “PANCINGAN” untuk mengeluarkan KEMAMPUAN TERBAIK dari diri Anda.

Kalau Anda selama ini hidupnya nyaman atau malah terlalu aman, waspadalah, mungkin hidup Anda sedang tidak ada pertumbuhan.

Karena pertumbuhan berbanding lurus dengan ketidak nyamanan.

Terakhir kami tutup dengan sebuah quote, “the enemy of great life is a good life” musuh terbesar kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang nyaman.

Mari bertumbuh, jangan mati sebelum hari kematian itu datang. SMANGAT! \(^,^)/


Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment